Sejarah Rivalitas Liverpool dan Manchester United Sejak Zaman Dahulu

Sebelum sepak bola menjadi urusan utama, Liverpool dan Manchester United sudah lebih dulu berseteru dalam hal ekonomi. Pada abad ke-19, Manchester merupakan kota industri tekstil terbesar di Inggris, sementara Liverpool menjadi pelabuhan utama yang menyalurkan hasil industri Manchester ke seluruh dunia. Namun, hubungan ini mulai retak ketika Manchester Ship Canal dibangun pada tahun 1894.

Dengan kanal tersebut, Manchester bisa langsung mengirim barang ke luar negeri tanpa melalui pelabuhan Liverpool. Bagi warga Liverpool, ini adalah “pengkhianatan ekonomi”. Sejak saat itu, ketegangan antara kedua kota semakin terasa, dan ketika sepak bola mulai populer, rivalitas itu berpindah ke lapangan hijau.

Lahirnya Dua Klub Raksasa

  • Manchester United berdiri pada tahun 1878 dengan nama Newton Heath LYR Football Club sebelum berganti nama menjadi Manchester United pada 1902.

  • Liverpool FC lahir belakangan, pada tahun 1892, setelah perselisihan internal di klub Everton yang kala itu menyewa stadion Anfield.

Menariknya, Liverpool terbentuk karena konflik dan mungkin dari sinilah semangat “melawan” mereka lahir. Tak butuh waktu lama bagi The Reds untuk menjadi kekuatan besar di sepak bola Inggris, terutama pada awal abad ke-20.

Baca Juga:
8 Pertandingan Sepak Bola Terbaik di Premier League yang Sulit untuk Dilupakan!

Dominasi Liverpool di Era 1970–1980-an

Rivalitas ini semakin panas ketika Liverpool benar-benar mendominasi sepak bola Inggris dan Eropa di era 1970 hingga 1980-an. Di bawah arahan legenda seperti Bill Shankly, Bob Paisley, dan Joe Fagan, Liverpool memenangkan berbagai gelar domestik dan internasional.

Bayangkan saja: pada periode itu, Liverpool seperti mesin kemenangan mereka meraih 11 gelar liga dan 4 Piala Eropa (sekarang Liga Champions). Fans Liverpool mulai membangun identitas sebagai klub paling sukses di Inggris, dan nyanyian “You’ll Never Walk Alone” menggema di seluruh dunia.

Sementara itu, Manchester United memang tetap besar, namun kerap kesulitan menyaingi dominasi The Reds. Bagi pendukung United, ini tentu menyakitkan dan di situlah api rivalitas semakin membara.

Kebangkitan Manchester United di Era Sir Alex Ferguson

Ketika Sir Alex Ferguson datang pada 1986, ia mengucapkan kalimat legendaris:

“Tujuan saya adalah menjatuhkan Liverpool dari puncak mereka.”

Dan benar saja di bawah Ferguson, Manchester United menjadi kekuatan tak terbendung. Mulai dari awal 1990-an hingga pertengahan 2000-an, United mendominasi Liga Inggris dan bahkan menembus Eropa dengan gaya bermain agresif dan penuh semangat juang.

Momen puncaknya terjadi pada tahun 1999, ketika United memenangkan treble winners: Liga Inggris, Piala FA, dan Liga Champions dalam satu musim.
Para penggemar United merasa akhirnya “membalas dendam” atas kejayaan panjang Liverpool di masa lalu.

Ferguson pun berhasil memenuhi ambisinya: Liverpool jatuh, United bangkit.

Era Modern: Persaingan Kembali Panas di Liga Inggris

Memasuki era Premier League modern, rivalitas ini terus berlanjut. Setelah Ferguson pensiun pada 2013, Manchester United sempat terpuruk. Sebaliknya, di tangan Jürgen Klopp, Liverpool kembali bangkit dengan gaya sepak bola “gegenpressing” yang atraktif dan efektif.

Puncaknya terjadi pada musim 2019–2020, saat Liverpool akhirnya menjuarai Liga Inggris untuk pertama kalinya setelah 30 tahun penantian panjang.
Bagi para fans The Reds, gelar itu terasa seperti “balas dendam” atas dominasi panjang United sebelumnya.

Di sisi lain, United terus berjuang menemukan kembali kejayaan lamanya. Namun, setiap kali kedua tim bertemu, baik di Anfield maupun Old Trafford, atmosfer selalu berbeda. Ada kebanggaan, ada kebencian, tapi juga ada rasa hormat karena keduanya tahu bahwa rivalitas ini adalah bagian penting dari sejarah sepak bola Inggris.

Dari Lapangan ke Tribun: Emosi yang Tak Pernah Padam

Rivalitas Liverpool dan Manchester United bukan hanya tentang siapa yang menang di lapangan. Ini juga soal identitas sosial dan budaya.

  • Fans Liverpool dikenal dengan solidaritas dan kebanggaan terhadap kota mereka yang punya sejarah pelabuhan kuat.

  • Fans United, di sisi lain, identik dengan semangat kerja keras dan kebanggaan sebagai klub global dengan basis suporter terbesar di dunia.

Pertandingan antara keduanya sering disebut sebagai “North West Derby” dan meski tidak satu kota, tensinya bahkan bisa lebih panas daripada derby sekota seperti Manchester Derby atau Merseyside Derby.

Di tribun, lagu-lagu ejekan kerap terdengar. Kadang, bahkan terlalu personal. Namun di situlah keunikan rivalitas ini: dua klub besar yang saling membutuhkan untuk membuat sejarah mereka makin hidup.

Ikon, Legenda, dan Momen Tak Terlupakan

Tak lengkap rasanya membicarakan rivalitas ini tanpa menyebut nama-nama legendaris yang mewarnainya.

  • Dari kubu Liverpool, ada Steven Gerrard, Kenny Dalglish, hingga Ian Rush simbol kesetiaan dan gairah.

  • Dari kubu Manchester United, ada Eric Cantona, Ryan Giggs, Paul Scholes, dan tentu saja Cristiano Ronaldo.

Beberapa momen epik pun tak pernah terlupakan, seperti:

  • Kemenangan 4–1 Liverpool di Old Trafford pada 2009, di mana Gerrard mencium kamera dengan bangga.

  • Gol overhead kick Wayne Rooney di Old Trafford yang membuat fans United bersorak histeris.

  • Atau kemenangan 7–0 Liverpool atas United di Anfield pada 2023 hasil yang masih dibicarakan hingga sekarang.

Rivalitas yang Melebihi Sekadar Sepak Bola

Mungkin inilah yang membuat persaingan Liverpool dan Manchester United begitu spesial. Ini bukan hanya soal poin di klasemen atau jumlah trofi.
Ini tentang kebanggaan, sejarah, dan warisan dua kota yang tak pernah mau kalah.

Bahkan generasi baru fans yang mungkin belum lahir saat Ferguson dan Shankly berjaya tetap merasakan tensi yang sama setiap kali kedua klub bertemu. Setiap gol, setiap tekel, setiap sorakan di tribun semuanya membawa beban sejarah panjang yang sudah berjalan lebih dari seabad.

Dan selama sepak bola masih dimainkan di Inggris, satu hal pasti: rivalitas Liverpool dan Manchester United tidak akan pernah padam.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *